DI ANTARA KITA ADA YANG TERLUPAKAN

Salah satu fasilitas yang disiapkan Allah SWT untuk manusia adalah “harta”. Dalam bahasa arab “harta” disebut “mal” yang salah satu artinya adalah kecenderungan hati. Sedangkan secara istilah harta itu adalah  sesuatu yang dapat dimiliki dan dapat dimanfaatkan.

Manusia secara relatif memiliki kecenderungan yang dominan  kepada harta dan bahkan menyukainya. Dalam syariah Islam bagi yang memiliki harta lebih cukup (nisab) dari kebutuhan hidupnya wajib mengeluarkan sebagian hartanya (zakat) yang diserahkan kepada mustahik yang berada di wilayahnya.

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang secara pasti telah dikenal dalam ajaran Agama.  Barang siapa yang menunaikan Zakat, berarti dia bebas dari masa taklif (pembebanan) di dunia, selamat dari siksa di akhirat, dan memperoleh pahala menurut kadar kejujuran dan keikhlasannya.

Zakat adalah istilah sesuatu yang merupakan bagian dari hak Allah dan diberikan kepada orang atau badan yang berhak menerimanya. Disebut Zakat, karena di dalamnya terdapat harapan barakah, pembersihan jiwa, dan pengembangannya dengan kebaikan-kebaikan. Membayar Zakat harus dilakukan dengan segera tanpa boleh ditunda, karena zakat merupakan suatu hak yang mesti dibagikan pada manusia. Zakat merupakan ibadah yang bertujuan untuk membersihkan harta, baik harta perdagangan, tanaman, dan lain sebagainya yang mencapai satu nisab dan sampai pada waktu haul (satu tahun).  Zakat dalam Bahasa Arab mempunyai beberapa makna :

1. Zakat bermakna at-Thohuru, yang artinya membersihkan atau mensucikan.  Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat karena Allah dan bukan karena ingin dipuji manusia, Allah akan membersihkan dan mensucikan baik hartanya maupun jiwanya.

2. Zakat bermakna al-Barakatu, berarti berkah, Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu membayar zakat, hartanya akan selalu dilimpahkan keberkahan oleh Allah SWT, kemudian keberkahan harta ini akan berdampak kepada keberkahan hidup. Keberkahan ini lahir karena harta yang digunakan adalah harta yang suci dan bersih, sebab harta yang telah dibersihkan dengan menunaikan zakat yang hakekatnya zakat itu sendiri berfungsi untuk membersihkan dan mensucikan harta.

3. Zakat bermakna an-Namuw, yang berarti tumbuh dan berkembang. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya (dengan izin Allah) akan selalu terus tumbuh dan berkembang.

4. Zakat bermakna as-Sholah, yang berarti beres atau keberesan, yaitu bahwa orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya akan selalu beres dan jauh dari masalah.

Agar menjadi sumber dana yang dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat terutama untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan menghilangkan kesenjangan social, perlu adanya pengelolaan zakata secara profesional dan bertanggung jawab yang dilakukan oleh masyarakat bersama pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah berkewajiban memberikan perlindungan, pembinaan dan pelayanan kepada muzakki, mustahiq dan pengelola zakat.

Dalam konteks tersebut di atas kemudian muncul 3 istilah yang sangat berhubungan dengan zakat. Pertama : Muzakki yakni orang atau badan yang dimiliki oleh orang muslim yang berkawajiban menunaikan zakat. Kedua : Mustahiq yakni orang atau badan yang berhak menerima zakat.  Ketiga : Amil Zakat yang bentuk badan/lembaga maupun yang berebntuk perseorangan.

Sebagimana diketahui zakat tidak hanya menyangkut urusan individu, dalam arti urusan muzakki dengan mustahik, tetapi terdapat peran amil sebagai penghubung dan penyambung antara yang membayar (muzakki) dengan yang menerima zakat (mustahik). Peran amil secara eksplisit terungkat dalam dua ayat Al Qur’an surat At Taubat ayat 60 dan 103.

Satu hal perlu disadari bersama bahwa pelaksanaan pengelolaan zakat bukanlah semata-mata diserahkan kepada kesadaran muzakki, akan tetapi tanggung jawab memungut dan mendistribusikannya dilakukan oleh amil. Zakat bukan pula sekedar memberikan bantuan yang bersifat konsumtif kepada para mustahiknya, akan tetapi lebih jauh dari itu untuk meningkatkan kualitas hidup mustahik.

Tujuan pengelolaan zakat adalah meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penunaian dan dalam pelayanan ibadah zakat, meningkatnya fungsi dan peranan pranata keagamaan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial, serta meningkatnya hasil guna dan daya guna zakat.   Dengan lahirnya Undang-undang RI Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, maka Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama melalui Direktorat Pemberdayaan Zakat telah melakukan berbagai upaya dalam rangka mendorong dan mefasilitasi agar pengelolaan zakat yang dilakukan Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dapat dilakukan secara profesional, amanah dan transparan, sehingga tujuan pengelolaan zakat akan dapat tercapai.     Selain menerima zakat BAZ dan LAZ dapat juga menerima dana non zakat seperti infaq, shadaqah, hibah, wasiat, waris, dan kafarat yang pemanfaatannya dapat digunakan secara fleksibal dan untuk kepentingan umum.

Dengan memperhatikan uraian tersebut di atas, bahwa zakat itu suatu sarana pendanaan keagaman yang sangat strategis dalam pemanfaatannya bagi para mustahik terutama fakir miskin.  Zakat adalah ibadah yang memiliki nilai dimensi ganda, transcendental dan horizontal. Oleh sebab itu zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan ummat. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan Allah SWT maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia, antara lain :

1.      Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah dengan materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah SWT.

2.      Meminimalisir  kesenjangan sosial antara orang kaya (the have) dan orang miskin (the have not).

3.      Memberantas penyakit penyakit kikir dan cinta harta yang berlebihan dalam diri orang-orang yang berkecukupan dan bermewah-mewah dalam hidupan.

4.      Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (Menumbuhkan akhlaq mulia menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah.

5.      Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan sesorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang tentram, aman lahir bathin.

6.      Pilar jama’i antara aghniya dengan para mujahid dan da’i yang berjuang dan berda’wah dalam rangka meninggikan kalimat Allah SWT.

7.      Menumbuh suburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati muzakki dan mengembangkan harta mereka.  Ada yang harus kita patut camkan bersama, bahwa kita tidak pernah melihat atau mendengar orang yang selalu menunaikan zakat dengan ikhlas karena Allah, kemudian banyak mengalami masalah dalam harta dan usahanya, baik kebangkrutan, kehancuran, kerugian usaha, dan lain sebagainya. Yang ada bahkan sebaliknya.   Bagi para pembaca yang hidup dalam kecukupan jadilah muzakki,  dan bagi anda yang kehidupan di bawah garis kaya, jadilah munfiq (orang yang berinfaq) dan salurkanlah melalui BAZ-BAZ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s