Beda Madzhab, Tetap Shalat Bersama

Walaupun tidak sependapat, Imam Ahmad memilih mengeraskan bacaan basmallah untuk kepentingan ukhuwah.

Seorang pencari ilmu pengikut madzhab Maliki bertanya kepada Ibnu Hazm Ad-Dhahiri, seorang ulama madzhab Ad-Dzahiriyah (madzhab yang merujuk kepada makna leterlijk nash). Pertanyaannya mengenai hukum shalat di belakang imam yang berbeda madzhab. Ibnu Hazm dikenal sebagai ulama yang amat pedas komentarnya terhadap siapa yang berbeda pendapat dengannya. Bahkan ia tidak segan-segan menilai mereka sebagai pihak yang menyelisihi Hadits. Sehingga ada ulama yang menyebut lidah Ibnu Hazm sama tajamnya dengan pedang Hajaj, penguasa zalim yang suka membunuh.

Dengan catatan seperti itu, si penanya mengira bahwa Ibnu Hazm akan menjawab dengan jawaban yang tidak simpatik. Ternyata perkiraan itu meleset. Sebaliknya, Ibnu Hazm menjawab dengan penuh obyektif.

Dalam Risalah fi Al-Imamah, Ibnu Hazm menjawab pertanyaan pencari ilmu itu. ”Jika engkau menyatakan bahwa si imam membolehkan wudhu dengan nabidz (perasan anggur, baik yang sudah menjadi arak maupun belum), walau kami tidak menyetujuinya karena Haditsnya tidak sahih, namun kita memperoleh riwayat yang membolehkan. Jika engkau menolak shalat di belakang mereka, maka engkau adalah orang yang paling alim!”

Ada juga kasus lain. Ada imam (shalat) berpendapat wajib mandi junub hanya ketika keluar air mani saat jima’. Ibnu Hazm tidak menyetujui dengan pendapat tersebut. Sebab menurutnya, ada Hadits yang menjelaskan bahwa setiap jima’ mewajibkan mandi, sekalipun tidak keluar mani. Namun, lantaran ada beberapa Sahabat yang menyetujui pendapat si imam, Ibnu Hazm menyatakan, “Maka jika si penanya menolak shalat di belakang para Sahabat itu, maka ia akan tahu akibatnya di akhirat kelak!”

Ibnu Hazm sendiri termasuk ulama yang berpendapat meninggalkan basmalah saat membaca Al-Fatihah tidak membatalkan shalat. Namun, jika ada imam shalat yang berpendapat sebaliknya, maka kita tetap dibolehkan bermakmum kepadanya. Menurut Ibnu Hazm, hal itu sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para Sahabat, termasuk Abu Bakar dan Umar. “Jika engkau menolak shalat di belakang mereka, maka jiwamu telah zalim dan jelaslah kebodohanmu!” katanya.

Ibnu Hazm juga berpendapat, jika yang menjadi imam adalah orang yang menilai bolehnya akad salam satu dirham dengan dua dirham, walau hal ini menurut Ibnu Hazm adalah haram, namun bermakmum kepada mereka tetap dibolehkan. Hal itu merujuk kepada Ibnu Abbas. “Nah, jika engkau menolak shalat di belakang Ibnu Abbas, maka celakalah engkau!” kata Ibnu Hazm

Tidak hanya Ibnu Hazm yang membahas masalah bermakmum kepada imam yang berbeda madzhab. Al-Marghinani, salah satu ulama besar madzhab Hanafi, memilih mengambil pendapat Imam Abu Yusuf. Menurut Imam Abu Yusuf, bila imam membaca qunut maka makmum wajib mengikutinya. Padahal Al-Marghinani yang bermadzhab Hanafi tidak menganut qunut. Kemudian beliau berkata, ”Hal ini menunjukkan bolehnya mengikuti imam yang bermadzhab As-Syafi’i.”

Kisah serupa terjadi tatkala Harun Ar-Rasyid menjadi imam setelah beliau berbekam tanpa berwudhu. Imam Abu Yusuf, murid Abu Hanifah, tetap bermakmum kepada Harun walau berbeda pandangan.

Hal yang sama dilakukan oleh Imam Ahmad yang berpendapat mimisan dan berbekam membatalkan wudhu. Suatu saat ada yang berkata kepadanya, ”Jika ada imam telah keluar darah darinya, dan tidak berwudhu, apakah engkau shalat di belakangnya?” Imam Ahmad menjawab, ”Bagaimana bisa saya tidak shalat di belakang Imam Malik dan Said bin Musayyab?”

Imam Ahmad sendiri pernah memilih mengeraskan basmallah ketika shalat di Madinah walau tidak sependapat. Qadhi Abu Ya’la menilai hal itu disebabkan penduduk Madinah biasa membacanya dengan keras. Dan beliau memilih sikap itu dalam rangka mempererat ukhuwwah. *Thoriq/Suara Hidayatullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s