Ketika Perceraian di Ambang Mata

Perceraian adalah karunia tetapi menutup jalan ke arahnya dengan kebaikan akan merekatkan kebersamaan.

Seorang teman pernah bercerita bahwa dalam sebuah kesempatan yang hangat, keluarga besarnya berkumpul dan membicarakan semua hal yang telah mereka lalui. Tanpa disengaja, pembicaraan akhirnya mengalir pada tema yang sangat sensitif, yaitu pernahkah kata cerai terlintas dalam benak mereka yang kini sudah berumah tangga. Ternyata, jawaban masing-masing pasangan sangat mendebarkan. Mayoritas dari mereka mengakui bahwa keinginan bercerai, minimal, pernah terlintas dalam benak.

Bagi kehidupan normal berumah tangga, kata cerai, merupakan kata yang dihindari bahkan mungkin menakutkan. Namun, banyak orang yang luput menyadari bahwa sesungguhnya perceraian juga merupakan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia bisa menjadi alternatif terakhir atau mungkin satu-satunya jalan yang terbaik untuk keluar dari permasalahan.

Contoh kasusnya adalah bila salah satu dari pasangan memiliki masalah kejiwaan yang membahayakan atau salah satu pasangan keluar dari Islam. Dengan demikian, syariat perceraian, sejatinya merupakan karunia dari Allah.

Mendahulukan Kebaikan

Kebaikan, itulah kata pertama yang harus menjadi semangat dalam menyikapi alternatif perceraian. Karena, perceraian tak akan pernah terjadi tanpa adanya pernikahan yang di dalamnya bertabur kebaikan. Bila kebaikan yang menjadi harapan di awal perjalanan, mengapa tak selamanya kebaikan pun menjadi hal yang diutamakan dalam kebersamaan? Inilah hal yang harus dipertimbangkan dalam menyikapi penyebab-penyebab perceraian.

Berkaitan dengan hal ini, sangat indah untuk kita ingat kembali bahwa setiap hal dalam kehidupan selalu memiliki sisi kebaikan dan keburukan. Demikian pula dalam pernikahan. Selalu ada keburukan yang kita dapatkan tetapi juga begitu banyak kebaikan yang kita raih. Oleh karena itu, sungguh sangat sayang bila kebaikan-kebaikan yang kita raih melalui perjuangan itu harus tersia-sia begitu saja oleh keburukan yang tak diundang.

Simpanlah baik-baik segala kebaikan yang telah kita raih melalui perjuangan itu dalam jiwa. Agar ketika keburukan menerpa dan mempengaruhi hati, kebaikan itu dapat turun ke hati kita, memadamkan segala amarah dan menutup luka. Juga, agar kebaikan itu dapat memasuki relung-relung pikiran kita; menjadi pertimbangan bagi setiap langkah yang dilakukan untuk meminimalisir bahkan menghalau keburukan tersebut.

Sungguh indah contoh yang telah dilakukan oleh Hasan Al Bashri manakala datang kepadanya seorang perempuan yang mengajukan diri untuk dinikahinya. Melihat kegigihan perempuan itu yang ingin menjadi istrinya, Hasan Al Bashri akhirnya menikahi perempuan tersebut. Mereka hidup bersama selama puluhan tahun. Ketika sang istri wafat, Hasan Al Bashri ditanya apa yang menyebabkannya bertahan dan berlaku baik terhadap istri yang sama sekali tak dicintainya. Jawaban al-Bashri sangat luar biasa, ia berkata, “Aku berharap, apa yang kuberikan kepadanya akan menjadi pemberat timbangan kebaikanku di akhirat.”

Jawaban dan sikap yang diberikan oleh ulama besar ini tentu sangat patut kita contoh. Beliau tidak berangkat dari rasa cinta manakala memulai kehidupan berumahtangganya. Akan tetapi, sepanjang kehidupannya dengan sang istri, ia berusaha memberikan yang terbaik. Ini sangat berbanding terbalik dengan fenomena rumah tangga masa kini yang kerap memulai kehidupan rumah tangganya dimulai dengan cinta.

Orientasi untuk menjadikan kebaikan sebagai tangga untuk meraih berkah-Nya di dunia dan akhirat, nampaknya juga mesti kita pegang kuat-kuat manakala sederet konflik mulai mendekatkan pada perceraian. Bahwa, apa pun yang kita lakukan di dunia ini adalah jembatan menuju kehidupan di akhirat. Bahwa, tidak mungkin kita selangkah lebih dekat dengan surga-Nya dengan cara yang justru dibenci-Nya.

Marilah kita lihat bagaimana sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendahulukan kebaikan manakala berhadapan dengan apa yang tak sesuai dengan keinginan hati. Seorang lelaki Badui datang ke rumah Umar bin Khaththab untuk “curhat” tentang perilaku istrinya. Namun, sesampainya di muka pintu rumah sang Khalifah, lelaki Badui ini mendengar teriakan istri Umar yang sangat keras. Lelaki ini pun berbalik badan dan berkata dalam hati, “Celaka, bila keadaan Amirul Mukminin dengan istrinya saja sedemikian, bagaimana dengan aku?” Umar yang melihat kedatangan lelaki Badui tersebut dan melihatnya serta-merta menjauh, segera memanggilnya dan menanyakan keperluannya.

Lelaki itu kemudian menjawab, “Ya Amirul Mukminin, keperluanku sudah selesai.” Merasa tak percaya, Umar bertanya lagi, “Mari, coba ceritakan, ada apa sebenarnya?” Lelaki itu pun akhirnya bercerita, “Wahai Amirul Mukminin, sebenarnya aku kemari untuk mengadukan perilaku istriku yang buruk. Namun, kulihat perilaku istrimu jauh lebih buruk. Aku jadi berkata dalam hati, bila keadaanmu saja sedemikian, bagaimana dengan aku?”

Umar menjawab, “Aku sengaja menahan diri menghadapi semua perilakunya karena banyak sekali hak dirinya atas diriku. Dia adalah pendidik anak-anakku, dia yang memasak makanan untukku, dia yang mencucikan pakaianku, dan membersihkan rumahku. Aku sengaja menahan diri karena semua hak-haknya tersebut atas diriku.”

Berjuang dan Bertahan

Namun, bila kata cerai sudah begitu melekat dalam jiwa, hanya ada satu pilihan yang dapat diambil. Yaitu, bercerailah dalam derajat seperti Umar bin Khaththab. Umar memang pernah bercerai bahkan pernah menyuruh anaknya bercerai, tetapi Umar juga adalah sahabat Rasulullah dengan sejumlah kelebihan. Bila telah dapat menggunakan mata hati dan pikiran, serta kadar kesalehan seperti Umar, maka perceraian mungkin adalah pilihan yang “baik” untuk ditempuh.

Jika belum, maka renungkanlah wasiat Rasulullah, “Surga itu ditopang oleh perbuatan yang dibenci oleh manusia, sementara neraka itu ditopang oleh perbuatan yang disukai oleh hawa nafsu.” (Riwayat Muslim)

Oleh karena itu, mohonlah kekuatan kepada Allah untuk selalu diberi kekuatan mendampingi dan didampingi pasangan. Karena, sejatinya orang yang mengikatkan diri dalam miitsaaqon gholidzo, telah terikat oleh tali Allah yang hanya terulur pada Nabi-Nya, Bani Israil di bawah Gunung Sinai yang diangkat di atas kepala mereka, dan pasangan suami-istri yang berjuang mengukuhkan perintah-Nya melalui ikatan rumah tangga.

Berjuanglah untuk mempertahankannya, meski orang lain mengatakan “sudah di ambang perceraian”. Berjuanglah untuk merekatkannya kembali dan ingatlah, “Berangkatlah kamu (berjihad) dalam keadaan ringan ataupun merasa berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah [9]: 41)

Meski ayat ini bukan turun dalam konteks berperang mempertahankan rumah tangga dan berperang melawan ego. Tapi sesungguhnya mempertahankan rumah tangga juga sangat berat dan memerlukan jihad yang keras. Karena itu, sekali lagi, berjuanglah meski perjuangan itu sangat berat. *Kartika Trimarti, ibu rumah tangga tinggal di Bekasi, Jawa Barat. SUARA HIDAYATULLAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s