Bank Aceh Diminta Tingkatkan Pembiayaan Sektor Produktif

Banda Aceh, (Analisa). Para pemegang saham Bank Aceh meminta manajemen bank yang dimiliki Pemerintah Aceh dan 23 kabupaten/kota itu agar dapat lebih meningkatkan pembiayaan dan penyaluran kredit ke sektor produktif untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat di provinsi itu di masa mendatang ini.
Selama ini, Bank Aceh lebih banyak menyalurkan kredit ke sektor konsumtif yang mencapai 80 persen dari jumlah kredit seperti ke kalangan pegawai negeri sipil (PNS). Sementara kredit untuk sektor ekonomi produktif hanya mendapatkan porsi sebesar 20 persen.

Hal itu terungkap dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan Bank Aceh tahun 2012, yang dipimpin Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Ir Tarmizi A Karim, selaku pemegang saham pengendali (PSP) Bank Aceh dan dihadiri 23 bupati/walikota dalam kapasitas pemegang saham.

Dalam RUPS yang berlangsung di Pendopo Gubernur Aceh Kamis (10/5), turut dihadiri manajemen Bank Aceh, seperti Direktur Utama (Dirut), Islamuddin SE; Komisaris Utama, Drs T Setia Budi; Direktur Umum dan SDM, Irfan Sofni; Direktur Pemasaran, Busra Abdullah; dan Komisaris, Dr Islahuddin SE.

“Ada permintaan dari pemegang saham agar pembiayaan ke sektor ekonomi produktif, baik perkebunan, pertanian, sawit dan lain-lain itu ditingkatkan lagi porsinya. Ke depan itu sesuai rencana kita yaitu pada 2013 arahnya ke sana juga,” ujar Dirut Bank Aceh, Islamuddin.

Ia mengakui, penyaluran kredit Bank Aceh selama ini antara ke konsumtif dan produktif, persentasenya 80:20. Ke depan akan diupayakan 60:40.

Menurut Islamuddin, kredit produktif lebih kecil dibandingkan dengan konsumtif dengan pertimbangan, pertama konsumtif lebih gampang karena gaji pegawai semua di bank daerah, dan itu paling gampang.

“Tapi kan kita tidak boleh melihat kegampangan saja. Kreditnya aman iya, tapi kalau produktif lebih besar risiko kreditnya.

Tapi tadi disampaikan juga oleh pemegang saham bahwa visi Bank Aceh untuk menggerakkan sektor ekonomi daerah dengan tentunya risiko kredit produktif harus diperkecil,” sebutnya.

Kredit macet

Mengenai besarnya tunggakan kredit macet seperti di Aceh Utara/Lhokseumawe yang mencapai Rp250 miliar dan Aceh Barat, menurut Islamuddin, itu tidak dibahas dalam RUPS, tapi itu sudah menjadi program Bank Aceh untuk menyelesaikannya.

“Kita telah menargetkan penagihan kredit macet itu, dan sekarang memang sudah berkurang,” katanya.

Dalam RUPS itu, direksi Bank Aceh juga menyampaikan kinerja dan laporan pertanggungjawaban tahun 2011 dan rencana kerja 2012, serta pembagian deviden kepada para pemegang saham sesuai dengan porsinya, hasil perolehan laba tahun 2011.

Total aset Bank Aceh pada 2011, kata Islamuddin, mencapai sebesar Rp13,055 triliun lebih, meningkat 6,92 persen dibandingkan pada 2010 yang sebesar Rp12,210 triliun lebih.

Selain itu, capaian kinerja pada 2011 dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun Rp10,061 triliun, penyaluran kredit Rp9,198 triliun, modal disetor Rp858,687 miliar, dan perolehan laba sebesar Rp351,572 miliar. Selanjutnya, NPL Net 2,06 persen dan NPL Gross 3,69 persen. (mhd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s