Mari Bekerja Kencang, Penuhi Prinsip Kehati-hatian!

Jakarta, bimasislam— Dalam rangka untuk memenuhi target penyerapan anggaran pada triwulan pertama sebesar 25 persen sebagaimana intruksi presiden, kita dituntut bekerja kencang. Hal ini dapat dimaklumi karena di awal pelaksanaan program/anggaran tahun 2012 ini mengalami keterlambatan. Namun, satu hal yang perlu diperhatikan adalah harus memenuhi prinsip kehati-hatian. Demikian ditegaskan Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. Abdul Djamil, MA, dalam pengarahannya di hadapan pejabat eselon III Pusat dan Daerah dilingkungan Bimas Islam, di hotel Lumire, Jakarta (8/5).

 

Menurut mantan rektor IAIN Walisongo Semarang ini, dalam menjalankan program/anggaran, Bimas Islam harus mampu mengartikulasikan Renstra Kemenag Tahun 2010-2014. Pertama, Bimas Islam harus dapat meningkatkan kualitas kehidupan beragama. Sejauhmana program/kegiatan kita dapat memenuhi fungsi ini. Kedua, kontribusi Bimas Islam dalam menajaga dan meningkatkan kerukunan umat beragama. Ketiga, peningkatan kualitas pendidikan agama dan keagamaan. Sebagaimana kita tahu bahwa di Bimas Islam terdapat pendidikan di majelis taklim, dan lain-lain. Keempat, sejauhmana kita dapat membantu menngkatkan kualitas penyelenggaraan haji. Kelima, kita harus bisa menciptakan tata kelola kepemerintahan yang bersih dan berwibawa.

 

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menag, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, memberi catatan bahwa tugas-tugas KebimasIslaman semakin hari, semakin kompleks. Sangat disayangkan jika kita hanya melihat masalah hanya dalam satu perspektif. Sebagai contoh, kecenderungan masyarakat kita yang semakin pragmatis menjadikan masalah menjadi rumit. Soal nalai-nilai yang berkembang menjadi semakin rancu dan sangat mengkhawatirkan. Ini perlu menjadi pehatian kita, tegasnya.

 

Selain itu, lanjut Wamen, penurunan moralitas anak-anak remaja kita juga sangat mengkhawatirkan. Menurut studi terbaru, setidakanya terdapat 4 dari 10 remaja pernah melakukan hubungan seksual. Makanya tidak heran betapa banyak kasus aborsi dan pernikahan usia dini yang tidak diinginkan. Jika hal ini tidak mendapatkan perhatian, maka suatu saat nanti bangsa ini akan mengalami kekosongan generasi.

 

Belum lagi masalah-masalah lain, seperti radikalisme agama, tingginya tingkat perceraian, fanatisme kelompok, termasuk masih maraknya paham dan aliaran sempalan. Semua itu menjadi tantangan Bimas Islam agar mampu mendesain program secara tepat dan mengena terhadap kepentingan masyarakat. “Lakukan sesuatu yang berbeda, munculkan gagasan yang cerdas, baru, kreatif, tetapi tanpa melanggar aturan. Tinggalkan warisan masa lalu yang tidak produktif, bersifat rutin, dan kurang bermanfaat”. Tutupnya. (bieb)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s