Kapan Terakhir Anda Berqurban?

HAJI telah tiba, tanah suci pun menjadi tujuan sebagian ummat Islam yang memiliki kelapangan rezeki. Ritual tahunan yang merupakan rukun Islam terakhir ini belakangan mengalami peningkatan secara signifikan bila ditinjau dari segi quantitas. Ummat Islam di Indonesia sebagai salah satu contohnya, banyak calon jemaah haji di Indonesia yang harus mengantri beberapa tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji karena quota haji yang terbatas. Meski dari segi finansial mereka telah memenuhi syarat berhaji, calon haji dari Indonesia dituntut sabar menunggu giliran yang lamanya memakan waktu tahunan.

Berbicara haji tentu tidak terlepas dari pelaksanaan ibadah qurban, karena ibadah haji dan ibadah qurban saling berhubungan dan saling menyempurnakan baik dalam hal spirit maupun spiritualitas. Dalam hal spirit, haji dan qurban bersinergi pada pengorbanan yang besar untuk dapat melaksanakan kedua ibadah tersebut. Sedangkan dalam dimensi spiritualitas, ibadah haji dan ibadah qurban sama-sama mampu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Makna qurban dalam bahasa Arab berasal dari kata qoruba yang artinya dekat, yang dalam hal ini dimaksud kedekatan itu baik secara vertical maupun horizontal. Secara vertikal, makna kedekatan dalam qurban memerintahkan ummat Islam untuk meningkatkan intensitas dan qualitas komunikasinya dengan Allah Subhanahu Wata’ala. Sebaliknya dari sisi horizontal, sejarah ritual qurban mengajarkan bentuk pengorbanan manusia untuk menjalin silaturrahim dan menguatkan ukhuwah antara sesama ummat Islam.

Kisah Nabi Ibrahim as secara turun-temurun menjadi teladan ummat Islam di seluruh penjuru dunia dalam kaitannya menunaikan ibadah qurban. Sejarah yang juga diceritakan Allah Subhanahu Wata’ala di dalam Al-Qur’an merupakan referensi sepanjang zaman akan makna qurban. Dijelaskan bagaimana Nabi Ibrahim as mendapat ujian yang berat karena kecintaannya kepada anaknya, Ismail. Dalam mimpinya, Nabi Ibrahim as mendapat wahyu dari Allah Subhanahu Wata’ala berupa perintah untuk menyembelih putra yang paling dicintainya itu. Dan karena kuatnya tingkat keimanan, Nabi Ibrahim as dan putranya (Ismail) rela dan ikhlas melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wata’ala tersebut.

Keutamaan Ibadah Qurban

Perintah berqurban tidak terhenti pada Nabi Ibrahim saja, Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan setiap ummat Islam yang mampu dan berlapang rezeki untuk menyembelih hewan qurban. Hal ini dikarenakan keutamaan dari ibadah qurban itu sendiri, baik bagi shohibul qurban maupun orang lain yang menerima daging qurban. Allah telah berfirman;

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِي

Artinya: “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian dari padanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al Hajj: 28)

Berqurban merupakan syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana firman-Nya

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Yang artinya: “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (QS. Al-Hajj: 36)

Berqurban termasuk ibadah yang paling utama. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 162-163).

Firman-Nya pada ayat yang lain berbunyi:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (QS. Al-Kautsar:2).

Dua ayat tersebut menggandengkan ibadah qurban dengan ibadah shalat demi menunjukkan sikap tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu Wata’ala, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati karena berdekatan dengan Allah Subhanahu Wata’ala. Ibadah shalat dan menyembelih qurban adalah ibadah paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat.”

Selain itu, ketika nilai-nilai ibadah qurban dapat diderivasikan dalam kehidupan sehari-hari maka kerukunan antara ummat Islam terjalin kokoh. Kepedulian antara sesama dan rasa saling berbagi menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat berperadaban Islam. Ukhuwah Islamiah yang solid sangat mungkin melahirkan kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual, kecerdasan yang sangat diharapkan muncul sebagai kesadaran massal di tengah kondisi ummat Islam yang tercerai-berai sekarang ini. Mungkinkah kerusuhan dan tawuran yang marak terjadi di beberapa negara berpenduduk muslim termasuk Indonesia akan berakhir?

Jawabannya ada pada spirit berqurban!

Ibadah Qurban Butuh Pengorbanan

Kembali pada kisah Nabi Ibrahim as dan putranya, teramat berat perintah qurban yang harus dilaksanakan kedua hamba Allah tersebut. Nabi Ibrahim as sebagai seorang ayah harus rela dan ikhlas menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Dalam koridor berpikir normal, siapa yang tega menyembelih anak kesayangannya? Apalagi menyembelih dengan tangannya sendiri. Sementara bagi Ismail sebagai seorang anak manusia, logika sederhananya siapa yang mau disembelih hidup-hidup. Itulah ujian keimanan yang mesti dijalani setiap hamba jika ingin menjaga kedekatan jiwanya dengan pemilik jiwa itu sendiri. Dan jika hamba itu lurus keimanannya, ia akan yakin jika Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan menguji melebihi batas kemampuan hambanya.

Pengorbanan Nabi Ibrahim sangat besar ketika melaksanakan perintah qurban dari Allah Subhanahu Wata’ala. Selain akan kehilangan putra kesayangannya, ia harus melihat putranya menderita ketika disembelih. Begitupun Ismail yang masih belia, ia harus rela berpisah dengan ayahnya dan meninggalkan dunia ini dengan cara disembelih ayahnya sendiri. Momentum inilah yang diharapkan lahir dalam diri setiap hamba ketika menunaikan ibadah qurban.

Pengorbanan harta atau ternak kesayangan harus dilakukan demi meraih keberkahan Allah. Bukan sebaliknya, berqurban karena popularitas ataupun mensucikan harta hasil korupsi.

Melalui Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, perintah menyembelih hewan qurban hanya Allah muakadkan kepada hambanya yang mampu. Begitupun ibadah haji hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki harta yang cukup, baik harta yang dibawa ke tanah suci maupun harta bagi yang akan ditinggalkan di rumah. Artinya, kedua ibadah tersebut sangat membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Berqurban membutuhkan biaya untuk membeli hewan qurban, dan juga butuh keikhlasan untuk rela berbagi daging qurbannya kepada orang lain yang mungkin saja tidak mampu membeli daging selama hidupnya.

Hikmahnya, dengan berqurban seseorang dapat menjalin kedekatan hati dengan orang lain. Kedekatan hati antara sesama ummat Islam sangat diperlukan dalam rangka menegakkan syari’at Allah di bumi-Nya ini. Selain kedekatan Hhablumminnanas, orang yang berqurban insya Allah juga meraih kedekatan Hablumminnallah. Sebagaimana pengorbanan Nabi Ibrahim yang rela menyembellih putranya demi menjaga kedekatannya dengan Allah Subhanahu Wata’ala.

Jika hidup ini telah mampu menempatkan hati begitu dekat antara satu dengan lainnya, dan meraih kedekatan dengan Allah sang pemilik bumi seisinya ini, maka sesungguhnya kesempurnaan hidup telah diraihnya.

Nah, jika ingin tersambung dengan Allah Subhanahu Wata’alah, maka berqurbanlah. Kapan terakhir Anda berqurban?*/Zainal Arifin, Dosen STKIP Hidayatullah Batamhttp://www.hidayatullah.com/read/25588/25/10/2012/kapan-terakhir-anda-berqurban?.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s