Kakanwil: Santri Bagai Durian, Saat Bunga Diabaikan, Saat Masak Diincar Orang

Banda Aceh-KemenagNews (31/10/2012)

Kepala Kanwil Kemenag Aceh mengumpamakan anak dayah, santri, bagaikan durian yang saat masih bunga diabaikan orang, tapi begitu berduri dan masak diincar berbagai pihak. “Semula bunga durian tak dilirik orang. Siapa pun yang berjalan di bawah pokok durian (bak drien), tak ada yang peduli. Begitu durian (boh drien) mau berduri, pelan-pelan orang mulai hati-hati menginjak di sekitarnya. Dan saat berduri dan akan panen, jadi rebutan orang,” tamsil Kakanwil saat membuka Pembinaan/Workshop Organisasi Santri pada Pontren 2012, untuk puluhan santri dan pembina dayah se Aceh, yang digelar Bidang Pekapontren (Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren) Kanwil Kemenag Aceh. Acara berlangsung hingga 3 November 2012.

Begitu pula dengan santri, saat baru mondok, tak ada yang banyak ambil peduli, begitu cakap dalam, misalnya tahfizh, pidato, debat bahasa asing, baca kitab, dan ketrampilan lainnya, baru diincar orang. “Bahkan jika kita ada anak, kita ramai-ramai mau santri itu menjadi calon menantu kita,” banding Kakanwil dalam acara di Oasis Hotel Atjeh Banda Aceh itu.

Kakanwil juga mengulangi tentang keistimewaan santri, bagi ayah ibu yang mengantar anak ke dayah, bahkan ada keuntungan plus bersuami atau beristrikan santri dayah.

Di antara kelebihan anak dayah ialah, lebih pandai bergaul dengan beragam daerah dan suku, lebih piawai berkomunikasi sebab did ayah ada muhadharah, lebih terampil sebab di dayah mereka tekun dan fokus pada target keilmuannya, lebih mandiri sebab anak rankang itu jauh dari kehadiran orang tua, dan lebih bijak dalam mengelola anggaran karena ke dayah memang jarang datang wesel.

“Kita hidup di era kecemasan. Orang tua cemas anaknya di sekolah dan di luar sekolah. Namun dengan mengantar anak ke dayah yang diasramakan orang tua akan lebih tenang,” jelas Kakanwil yang mengutip penelitian satu ahli dari Inggris yang menyimpulkan, ternyata model dayah itu yang paling nyaman dan modern. Kini banyak yang menjiplak model pendidikan terpadu (boarding school) ini.

Penelitian orang Barat memang mengakui, lembaga pendidikan yang bisa menjawab kecemasan orang tua, pada era teknologi dan liberalisasi, itulah yang berbentuk boarding school sebagaimana zawiyah (dayah) di sini.

Di dayah, pengkaderan terjamin, tantangan zaman relatif bisa dijawab di dayah. Apalagi sudah model dayah terpadu dan perpaduan dayah dan madrasah, seperti konsep MUDI MESRA (Ma’had al-Ulum ad-Dinyah al-Islamiyah Mesjid Raya), Samalanga, Bireuen.

Kakanwil, H. Ibnu Sa’dan, yang juga lama mondok di dayah, yang saat membuka workshop, mengharapkan dan membayangkan, bahwa para santri hari ini, kelak bisa menjadi siapa pun, sebagaimana diposisikan orang tuanya. [muhammad yakub yahya]http://aceh.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=109268

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s